Jakarta - Keberadaan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri dan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dianggap menjadi biang kegagalan aparat mencegah kekerasan terhadap Ahmadiyah. Sebab, kepolisian dan aparat desa yang berada di lokasi kejadian, menjadi ragu-ragu untuk mencegah peristiwa yang menewaskan 3
orang itu.
"Karena ada SKB dan fatwa MUI yang seolah-olah membenarkan sikap apapun termasuk kekerasan kepada Ahmadiyah. Kepolisian dan aparat desa yang berada di lokasi menjadi ragu-ragu untuk mencegah, justru membiarkan," kata penasehat Indonesian Police Watch (IPW) Johnson Panjaitan saat dihubungi detikcom, Senin (7/2/2010).
"Faktanya, aparat kepolisian dan kepala desa sebenarnya mengetahui. Bahkan sudah memberitahu ke pihak Ahamadiyah. Tapi karena ada fatwa MUI bahwa Ahmadiyah sesat, jadi ragu untuk mencegah," tandas Johnson.
Alhasil IPW meminta Presiden segera mengevaluasi keberadaan SKB dan Fatwa MUI tersebut. Sehingga, payung hukum menjadi lebih jelas dan tidak ambigu.
"Yang paling bertanggjungjawab adalah kepolisian dan aparat desa yang ada di lokasi dan MUI. Ini sesuatu yang sistemik. Harus ada evaluasi hingga level Presiden untuk mengevaluasi SKB dan Fatwa MUI. Bila dibiarkan, ini akan mencoreng Indonesia di mata dunia internasional," pinta Johnson.
Minggu kemarin, massa mengerebek rumah yang diyakini markas Ahmadiyah di desa Cikeusik, Pandeglang. Kronologis kejadian masih banyak versi. Hanya saja, akibat bentrok tersebut, 3 orang tewas dan 5 orang luka parah.
Peristiwa tersebut merupakan kali kesekian setelah berbagai peristiwa kekerasan menimpa penganut Ahmadiyah seperti di Kuningan dan Nusa Tenggara Barat (NTB) - Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sumber: http://www.detik.com/
Pendidikan Sepanjang Hayat Melalui Pendidikan Untuk Semua Demi Pemberdayaan Masyarakat Indonesia
Tampilkan postingan dengan label Penyerangan Ahmadiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyerangan Ahmadiyah. Tampilkan semua postingan
Senin, 07 Februari 2011
Minggu, 06 Februari 2011
POLISI: ADA PROVOKATOR DI BALIK PENYERANGAN JEMAAT AHMADIYAH
Jakarta - Belum diketahui mengapa ribuan warga Cikeusik, Pandeglang, Banten secara brutal menyerang anggota Ahmadiyah. Polri mensinyalir ada pihak yang memprovokasi warga.
"Kita menduga ada yang sengaja memprovokasi mendatangkan massa dalam jumlah besar," kata Kabagpenum Mabes Polri Kombes Pol Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, Senin (7/2/2011).
Menurut Boy, pada saat kejadian pergerakan massa secara mendadak terus bertambah. Polisi mengklaim warga menjadi emosi karena provokasi pihak-pihak tak bertanggungjawab.
"Tidak mungkin ada massa datang tiba-tiba pasti ada yang menyulut. Yang membuat mereka tidak rasional lagi," jelasnya.
Boy mengatakan, pihaknya mengimbau agar aksi-aksi kekerasan tidak lagi dilakukan. Apabila ada kesalahpahaman, hendaknya dibicarakan secara baik-baik dan melalui musyawarah.
"Apabila ada perbedaan solusinya jangan melalui kekerasan. Jangan sampai kita melakukan aksi-aksi kekerasan dan merugikan, atau membuat perbuatan melawan hukum, jadinya merugikan ke semua," tandasnya.
Dalam penyerbuan di Cikeusik, Pandeglang, 3 jamaah Ahmadiyah tewas. Seperti diutarakan dari pihak Ahmadiyah mereka yang tewas yaitu Mulyadi, Tarno dan Roni. Mulyadi adalah warga setempat atau tuan rumah, sedangkan Roni adalah jemaah yang datang dari Jakarta. Sementara, 5 lainnya luka berat dan masih dalam perawatan di RS Malingping.
Sumber: http://www.detik.com/
"Kita menduga ada yang sengaja memprovokasi mendatangkan massa dalam jumlah besar," kata Kabagpenum Mabes Polri Kombes Pol Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, Senin (7/2/2011).
Menurut Boy, pada saat kejadian pergerakan massa secara mendadak terus bertambah. Polisi mengklaim warga menjadi emosi karena provokasi pihak-pihak tak bertanggungjawab.
"Tidak mungkin ada massa datang tiba-tiba pasti ada yang menyulut. Yang membuat mereka tidak rasional lagi," jelasnya.
Boy mengatakan, pihaknya mengimbau agar aksi-aksi kekerasan tidak lagi dilakukan. Apabila ada kesalahpahaman, hendaknya dibicarakan secara baik-baik dan melalui musyawarah.
"Apabila ada perbedaan solusinya jangan melalui kekerasan. Jangan sampai kita melakukan aksi-aksi kekerasan dan merugikan, atau membuat perbuatan melawan hukum, jadinya merugikan ke semua," tandasnya.
Dalam penyerbuan di Cikeusik, Pandeglang, 3 jamaah Ahmadiyah tewas. Seperti diutarakan dari pihak Ahmadiyah mereka yang tewas yaitu Mulyadi, Tarno dan Roni. Mulyadi adalah warga setempat atau tuan rumah, sedangkan Roni adalah jemaah yang datang dari Jakarta. Sementara, 5 lainnya luka berat dan masih dalam perawatan di RS Malingping.
Sumber: http://www.detik.com/
Langganan:
Postingan (Atom)